Aku Bukan Pancasila

Juni 7, 2008 at 8:05 am Tinggalkan komentar

Aku Bukan Pancasila

Oleh: Teguh Estro

FPI jangan berantem dong

Berkali-kali diri ini menanyakan, aku dimana…? Semua orang bermulut di sekelilingku hanya diam. Ya, aku memang panik, menjerit-jerit. Tapi sungguh, bukankah aku layak tahu apa yang terjadi, mengapa…? Mengapa kepalaku diperban, lantas kok, bisa berbaring dirumah sakit…? Lagi-lagi kebisuan yang mereka berikan. Aku tahu, mereka pasti menyembunyikan sesuatu.

“ Kamu dihajar orang Man…!” Ucap Atmo.

kagetnya aku mendengar ucapan pria di samping ranjang ini pelan padaku. hingga memoriku mencoba keras mengingat sesuatu, kejadian itu. Kejadian dihajar orang.

***

“Man,… man,…. Herman, Ayo!” Teriak Atmo dari luar rumah. Atmo memang resek. Pagi-pagi buta mulutnya sudah bersuara di depan rumahku. Apaan sih, paling-paling pinjam motor. Walau begitu, temanku satu ini begitu akrab. Saking nempelnya, kami dulu sempat dijuluki bujang kembar. Hanya saja sejak aku telah bekerja, kita berdua jarang bersua. Apalagi kini ia sudah menjadi aktivis ormas ini dan itu. Tapi anehnya pagi-pagi begini ia sudah terlihat semangat sekali, berkoar-koar memanggilku.

“Ayo Herman, dijenguk siapa diluar…” suruh ibuku yang sedari tadi hanya di dapur, tampaknya wanita yang telah melahirkanku ini juga terusik.

“ Iya sebentar…!” Teriakku tak kalah kuatnya dengan suara di luar. Baru saja kubuka pintunya, Atmo pun langsung ngelonyor duduk di kursi dengan nafas terputus-putus. Pria kelahiran bekasi ini bercerita panjang lebar dengan berapi-api, seolah-olah mau berperang saja. Kadang ia angkat tangannya, mengepal dan sesekali memasang telunjuknya tepat di wajahku. Yang pasti ia ingin mengajakku berdemo lagi.

“Kali ini beda Man, sumpah beda. Kita hidupkan pancasila demi bangsa…” Imbuhnya sejenak sebelum pulang dengan mata melotot. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Setahuku demonstrasi di jalanan itu selain panas, melelahkan, juga tidak ada gunanya. Toh, hanya bercuap-cuap tanpa tahu siapa yang mendengarkan. Dasar Atmo,… kalau bukan karena teman, tentu sudah kutolak mentah-mentah. Tapi kalau sudah begini gimana cara menolaknya ya….! Atmo kan sahabatku, apalagi tampaknya ia sangat berharap banyak.

Hingga hari itu tiba, Atmo datang lagi ke rumahku. Kali ini ia beratribut lengkap dan bendera merah-puti telah bertengger di tangannya. Lelaki yang bertubuh jangkung ini mengajakku penuh paksaan. Saat kukatakan; “ Capek ah…”, ternyata ia telah menyiapkan sepeda motor. Sungguh sungkan bagiku untuk beralasan malas. Terpaksa pantat ini menunggangi bebek berasapnya Atmo, beriring bendera tentunya. Hingga aku tak sabar melihat kekonyolan aksi demo hari ini.

Saat berangkat dan menyusuri jalanan Jakarta, ternyata masa yang ikut cukup banyak. Anehnya kini justru perasaanku berbalik arah, “..Demonstrasi enak juga ya.. !” seloroh hati ini.

Seluruh elemen baik dari ormas mahasiswa, masyarakat hingga ormas keagamaan terangkul dalam aksi hari ini. Sungguh jiwa nasionalisme sontak bangkit dari bulu romaku. Apalagi dari rombongan di belakang ramai menyayikan lagu Indonesia raya. Hingga akhirnya aksi jalanan ini finish dengan orasi kebangsaan di lapangan Monas. Aku pun mulai berpikir curiga saat Atmo turun dari motornya.

“ Ini bukan aksi anarkis kan…?” tanyaku pada Atmo.

“ Ya, lihat saja nanti”

Jantungku berdegub kencang tatkala puluhan masa berkumpul membentuk barisan. Memang di lapangan Monas ini terlihat banyak ormas yang tengah berdemo. Lihat saja, tak jauh dari barisan kami tampak ormas yang lain lagi, tengah berorasi menolak kenaikan BBM. Waktu itu tiba, saat keadaan kian ricuh. Disana-sini berteriak “merdekaaa…”, “hidup pancasila…”, “hidup Indonesia…”. Saling bersahutan tanpa komando, huh… ramai sekali. Suasana ini membuat telingaku yang tak biasa ini terganggu. Udara panas, tenggorokkan kering dan bau keringat bercampur memperburuk keadaan. Aku yang berada di tengah barisan tak tahan mau muntah. Hingga waktu itu tiba, kejadian itu datang….

Semua barisan tiba-tiba bubar, berlarian kesana kemari. Ternyata ormas yang tengah berdemo di sebelah kami tadi langsung menyerang membabi buta. Gerumulan orang berteriak menambah kepanikanku. “Allahu akbar….!!” Mereka mengejar dan memukuli teman-temanku. langkah ini mencoba berlari, “ayo berlarilah…cepat !” teriak batin pada kakiku. Akan tetapi sialnya seorang lelaki berbaju putih menangkap tanganku yang berayun bebas. Terjadilah tarik menarik, hingga aku terjatuh antara lantai semen dan rerumputan.

“Kamu aktivis pancasila ya…? Kenapa berdemo bersama orang-orang sesat…!” teriak oran itu bertanya di telingaku.

Sungguh, tak kumengerti. Pukulan, hantaman mengenai tubuh dan muka ini berkali-kali hingga memar sekujur tubuh. Mereka bertanya seperti itu lagi. Mereka selalu bertanya tentang pancasila lah, aliran sesat lah… Bukan hanya sesat tapi sakit, bahkan lebih dari itu. Mereka bertanya lagi dan tubuhku dipukul lagi, bertanya lagi, dipukul lagi. Seterusnya. Hingga tak sangup kutahankan gejolak ini, aku berontak tanpa tahu berapa tenagaku.

“ Buka….aan !! aku bukan pancasial, aku bukan aliran sesat…!!” teriakku sekencangnya. Akhirnya lepas juga pegangannya dari tanganku. Lekas lariku begitu kencang. Astaga…! Mereka mengejarku begitu cepat. Mataku melihat mereka di belakang berlarian hendak mendekati dan menangkapku. Dengan langkah penuh darah ku coba mengalihkan muka ke depan. Sialnya lagi langkahku menabrak seseorang lagi. Mataku kian berkunang-kunag pasrah.

“ Tenang mas, anda aman…!” ucap pria berseragam yang kutabrak tadi sembari mengeluarkan pistol untuk menakut-nakuti pengejarku.

“Man,… Herman, Untung cepat kupanggil polisi. Kamu nggak apa-apa kan. Kita ke rumah sakit sekarang…” ucap pria lainnya yang sepertinya Atmo tergesa-gesa.

pandangan kian berkunang dan tak jelas siapa yan kulihat. Tubuhku langsung roboh di pundak pria tadi. Hingga tak tahu apa yang terjadi, hingga dunia terlihat begitu gelap.

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

Puisi-45

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Juni 2008
S S R K J S M
« Mei    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

%d blogger menyukai ini: