Hai Girls

April 2, 2008 at 1:02 am 1 komentar

Hai Girls…

muslimah.jpg

Oleh : Teguh ‘Estro’

Tersenyum sendiri mengenang masa lalu. Riha yang kini asyik menyapu lantai dan membersihkan debu-debu bingkai foto di dinding. Foto seorang bayi yang masih imut-imut. Terlebih Foto saat ia baru masuk kuliah hingga tak sadar membuat Riha tertawa sendiri. Teringat teman-teman lucunya, saling tertawa tanpa beban.

***

Sungguh terkejut Riha dibuat kaget oleh temannya. Padahal sedari siang kerjaannya hanya melamun di taman fakultas

“Hai girls, kok melamun aja. lagi dapet ya..?”

“Bertha, aku lagi kesel nih…” ucap Riha manja.

“Duh.. anak manis, belagu amat sih… kalo kesel biar gue pijatin sini”

“Bert…! kamu tahu kan belakangan ini temen-temen kayaknya menjauhi gue deh, kira-kira kenapa ya..? padahal gue ‘kan nggak salah apa-apa!”

Kali ini Bertha-pun hanya diam.

“kalo’ itu…” Bertha menjawab ragu.

Wajah Bertha tiba-tiba berubah dan entah kenapa tubuhnya mulai kaku dan seperti ada yang disembunyikan.

“apa mungkin karena gosip belakangan ini, Bert..?” tanya Riha lagi

“Kalo masalah itu…girls”

“Apa…!” Riha mulai memelas lagi.

“ah, sudahlah kita ke Gedung pertemuan aja yuk, ada seminar psikologi anak lho..!”

Gadis pemalu itu pun akhirnya menuruti saja ajakan Bertha. Hingga hari terus bertambah, Riha masih terasing dari teman-temannya. Padahal sejak semester satu ia sudah menjadi perhatian anak-anak kampus. Selain anak orang kaya, cantik, Riha juga tergolong wanita yang cerdas. Namun sayang, sejak memasuki semester tujuh, anak berkulit putih itu mulai dijauhi teman-temanya. Bahkan momen ini digunakan sebaik-baiknya oleh orang-orang yang membencinya, karena iri dengan kecantikannya, kecerdasannya atau semuanya. Terutama Amel dan teman-temannya. Pernah suatu hari Amel menarik jilbab Riha dengan sengaja. Akhirnya muka Amel babak belur terkena jurus karate-nya Riha. Sejak itulah Amel menjadi bertambah benci padanya.

Pagi itu seperti biasa ia berangkat kuliah dengan seorang diri.

“Salam ‘alaikum Riha…”

“’Alaikum salam..” jawab Riha tipis.

“Bisa dibantu, kelihatannya berat tuh…” sapa Hasan kepada Riha.

Namun gadis campuran jawa dan arab itu langsung pergi dan berlari. Untungnya kejadian itu sempat terlihat oleh Bertha dari lantai empat. Hingga ia turun dan menemukan sahabatnya sedang menangis di kelas 211.

“Hai girls..”

“Bertha, sini… duduk dekat gue…” sambil menahan air matanya, gadis yang juga qari’ah itu mengisyaratkan agar Bertha menemaninya.

“Ada apa lagi Riha.. gue kasihan ama elo deh.” Bertha mulai duduk dan mengelus-elus kepala Riha yang tertutup jilbab itu.

“Hasan…! Hasan.. Bert, aku ketemu dia.”

“Trus, apa masalahnya dong?”

“Setiap gue ketemu dia selalu saja teringat masa lalu yang begitu kelam, sangat kelam Bert.. Elo ngerti kan gimana dulu kejadiannya saat ‘Aisyah teman satu kelas kita dulu diperlakukan oleh anak-anak Bandstyle. Di depan muka gue sendiri Bert… gue masih takut nih”

“Elo masih trauma ya..? memang sih, Hasan itu sekarang personel baru di Bandstyle. Tapi dia ‘kan berbeda girls. katanya denger-denger dia anak pesantren kok… bahkan sekarang dia kuliah di universtas lain. Lagian orangnya cakep lho..! ”

“ Tapi …”

“Sudahlah..kita masuk kelas aja yuk..dosennya sebentar lagi masuk tuh. Sekarang matakuliah pak Sudjarmoko, dosen kesukaan elo ‘kan”

Ternyata Riha nggak pernah melupakan kejadian satu tahun lalu. Ketika anak-anak Bandstyle bermain ke kost ‘aisyah dan kebetulan disana ada Riha yang sedang belajar bersama. Ternyata tanpa sepengetahuan mereka berdua, para anak band tersebut mencoba untuk merebut kehormatan ‘Aisyah. Untungnya tidak berhasil karena sempat ketahuan oleh salah satu anak kost disana. Walau Hasan tidak ikut dalam peristiwa keji itu, tapi di mata Riha citra anak band semuanya sama. Jahat, jahat dan jahat. Hingga bulan lalu ‘Aisyah sahabat baiknya memutuskan untuk pindah kuliah karena tak sanggup menahan fitnah. Sejak itu pula Riha terkucilkan dari temen-temen kampus karena termakan gosip sengaja berbuat mesum dengan anak-anak bandstyle.

Sore itu gadis yang masih berdarah keraton istana bogor tersebut pulang tepat pukul empat. Padahal Bertha sudah menawari agar naik motor aja, tapi tetap saja ia bersikukuh untuk jalan kaki.

“Jalan kaki lagi ya..! ayo sini bareng gue. “

“Deket kok, nggak apa-apa. Elo duluan aja Bert”

“Oh.. gue tahu. Jangan-jangan elo udah janjian pulang bareng ama Hasan ya..! dengan alasan kostnya berdekatan lalu jalan bareng deh dan…”

“Hus, jangan ngomong yang aneh-aneh, kata elo dia anak pesantren. Gimana sih..”

“Ops iya ya.. kalo elo nggak mau ikut, gue cabut duluan ya..!” Bertha memang keterlaluan kalau bercanda.

Sudah menjadi kebiasaan Riha untuk pulang berjalan kaki. Walau sebenarnya tidaklah terlalu dekat tapi anak manis itu memaksakan diri untuk tetap berjalan kaki, sambil membawa banyak makalah dan buku pelajaran kuliah. Saat melewati lorong yang agak sepi ingin rasanya ia istirahat barang sebentar saja. Kebetulan di lorong tersebut ada kursi panjang dari kayu. Sejenak ia sandarkan tubuhnya ke dinding lorong dan memejamkan mata. Namun seketika Riha terkejut hingga benar-benar kaget melihat sekelompok lelaki mendekatinya. Berbaju hitam dan menyeramkan wajah mereka. Lagi-lagi anak Bandstyle yang kali ini mereka bersama Amel. Riha yang tadinya kelelahanpun langsung berdiri dan memasang kuda-kuda karatenya.

“Duh anak cantik, kali ini sehebat apapun jurusmu tak akan bisa mengalahkan kami semua… ayo boys nikmati anak berkerudung ini” Ucap Amel menyuruh anak-anak bandstyle yang memang sudah dibayar olehnya.

Riha hanya mampu menggunakan jurus dan sisa tenaganya. Hampir saja jilbabnya terbuka dan terjatuh.

“Jangan..jangan..” pinta Riha.

“Ayo lucuti saja pakaiannya…! bukannya kalian kubayar untuk itu” teriak Amel.

Riha menangis kencang saat tangannya dipegang erat oleh salah seorang lelaki disana. Hampir saja baju lengannya robek. Seketika genggaman tangan terlepas hingga lelaki itu jatuh, begitupun Riha. Terlihat dari belakang muncul sosok lelaki lain, ternyata Hasan yang memang sering pulang lewat lorong itu terpaksa menolong Riha.

“Pantas saja, kalian bilang hari ini tidak latihan di studio, ternyata ini kerjaan kalian ya..! kalian mau citra kita sebagai anak Band ternodai dengan kelakuan memalukan ini. Sejak saat ini gue putusin untuk keluar sebagai gitaris Bandstyle. Lebih baik gue gabung bersama band adik kelas silverkey dan sejak saat ini pula siapapun yang menyentuh Riha maka akulah lawannya” teriakan Hasan ternyata mengundang perhatian warga sekitar. Akhirnya satu-persatu anak-anak bandstyle meninggalkan lorong tersebut karena takut ketahuan warga.

Kini tinggallah Hasan dan Riha berdua saja di lorong sepi tersebut. Mereka hanya diam saja, dan tidak saling tatap. Riha menunduk saja, sedangkan Hasan hanya melihat langit.

“Kamu nggak apa-apa kan ?” tanya Hasan sambil memperhatikan awan mendung.

“Terima kasih” jawab Riha sedikit saja.

“kita naik taksi aja yuk, kost kita kan berdekatan. Lagipula jalan pulang masih jauh kok.”

“Tapi..” belum sempat Riha berbicara langsung dipotong saja oleh Hasan.

“Aku tahu maksud kamu, namun jauh lebih besar fitnahnya jika seorang cewek jalan sendirian. Apalagi masih banyak lorong sepi disana. Bisa saja mereka menghadang kamu lagi.”

Ternyata Riha hanya bisa ikutan saja. Mereka berdua keluar dari lorong dan menuju jalan raya. Mobil sedan berwarna biru menghantarnya pulang.

Beruntung sekali Riha hari itu hingga tak henti-hentinya ia bersyukur. Justru Bertha kini dibuat heran oleh sahabatnya itu. Bulan demi bulan berlalu sampai akhirnya mereka wisuda bersama. Riha yang kini telah berstatus Sarjana Psikologi dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

Dengan berpakaian toga Riha dan Bertha duduk di Taman depan gedung Graha Sabha UGM. Mereka bercerita dengan penuh suka sekaligus duka pepisahan.

“Riha gue mau tanya nih…”

“Ah, elo kayak nggak pernah nanya aja. Ada apaan sih”

“Sebenarnya pakai jilbab itu enak nggak sih ”

“Elo kalau bener-bener pakai jilbab tambah cantik lagi…” ledek Riha sambil mencubit pipi Bertha disambut senyum manis mereka berdua.

Sekitar setengah tahun lebih Riha mencari kerja. Walau sebenarnya Riha bisa saja meminta papa-nya sebagai kepala bagian untuk mempekerjakannya di perusahaan tempat papa-nya kerja. Namun pantang bagi Riha meminta-minta sampai ia diterima menjadi Guru di sebuah SMA di kotanya, Tanggerang. Kegembiraan ini membuat keluarganya turut senang.

“Riha, papa bangga sama kamu nak..”

“Ah, papa bisa aja. Ini kan berkat doa papa juga..” Riha memuji balik papanya.

“Oh iya sayang, ada yang mau papa obrolin ama kamu”

“Papa ini, mau ngobrol aja pake izin segala. Emangnya saya ini anak orang lain” Riha mulai belajar bercanda tepat saat bintang menemani rembulan. Tertiup angin sepoi di teras depan. Namun sejenak raut muka papanya agak serius. Dan menatap baik-baik wajah anaknya tersebut.

“Riha, Papa ada calon suami buat kamu… gimana?”

“Calon suami…? tapi ‘kan ini bukannya lagi zaman…” langsung saja ucapan Riha dipotong oleh papanya.

“Sayang,.. dengerin papa dulu. Besok beliau akan datang kesini, direktur baru perusahaan papa lho.. Masih bujangan kok. Kamu tenang aja kalau memang nggak mau katakan saja tidak…”

Malam itu tidur Riha nggak nyenyak, karena kali ini seolah harga dirinya terkekangi. Di zaman secanggih ini masih saja ada orang tua yang menjodohkan anaknya. Riha terus berpikir bagaimana caranya untuk menolak dengan lembut dan tidak menyakiti hati calon suaminya itu, juga hati papanya.

Pagi-pagi setelah sholat subuh setelah memasak nasi dan merebus air, Riha berangkat jogging, memang saat itu hari minggu. Tapi papanya lebih dahulu mencegahnya, karena jam sembilan pagi calon suaminya mau datang. Anak semata wayang itu terpaksa disuruh Mandi lebih awal dan berdandan yang cantik. Sangat jelas terlihat wajah murungnya karena benar-benar tidak suka dengan kelakuan orang tuanya. Hanya rasa hormat kepada papanya saja yang membuat dara berusia 24 tahun itu tetap tersenyum.

“Riha kamu di kamar saja dulu. Nanti kalau sudah datang calon suami kamu dan saat papa kamu memanggil kamu langsung keluar ya..!” Dengan halus mamanya menasehati.

“Ma, kita ini mau acara pelamaran atau main petak umpet sih,”

“Hus, kamu jangan ngomong yang aneh-aneh. Ini tradisi kita nak” mamanya kembali menasehati.

“Tapi ‘kan Riha bukannya anak Keraton yang hidup di zaman Mataram dulu, ma..!”

“Riha,.. sekarang kamu diam aja disini, nggak usah banyak komentar. Nanti kalau papa memanggil kamu langsung aja keluar pelan-pelan.. ingat senyum dan jangan sekali-kali menatap wajah calon suami kamu beserta keluarganya kalau belum disuruh papamu” Riha hanya bisa pasrah.

Hampir setengah jam Riha menunggu di dalam kamar, sambil asyik main game di Hp. Namun seketika gadis yang bernama lengkap ‘Rihayati Ramadhani’ itu menjadi gugup dan jantungnya berdetak kencang saat dari luar papanya memanggil. Berarti sudah saatnya ia keluar layaknya puteri raja. Sedikitpun ia tidak menatap wajah tamu di rumahnya hingga papanya menyuruh. Hingga waktu menentukannya bertatapan mata beningnya dengan calon suaminya langsung membuat hati sang dara berdesir, mukanya tersenyum malu dan merona, seolah bukan melihat orang asing saja. Karena gembiranya Riha hingga berlari ke kamarnya dan bersujud syukur. Menangis tapi bahagia.

***

Lamunan masa lalu itu membuat senyum Riha bertambah lebar menambah asyik tangannya mengelus kaca bingkai foto. Apalagi saat memandang seorang lelaki disampingnya di dalam foto saat berpakaian wisuda. Mengingatkan ia pada kejadian di sebuah lorong kecil dekat jalan Kolombo, Yogyakarta. Kini mereka telah dianugerahkan seorang anak.

Namun belum sempat ia membersihkan seluruh debu-debu pada foto-foto tersebut, seketika dari luar rumah terdengar orang yang mengetuk pintu. Riha segera mengambil jilbab di keranjang tidur Bayinya yang masih lima bulan.

“Sebentar.”

“Salam ‘alaiakum.”

“Iya…‘alaikum salam… cari siapa ya mas. Oh, pak pos. Ada kiriman buat saya pak.!”

“Ada pak Hasan bu.?”

“Suami saya sedang kerja pak. ada yang bisa dititipkan nggak”

“ada kiriman nih, buat pak Hasan dan surat kecil di dalamnya buat ibu Riha, Isterinya..”

“Oh, ada buat saya juga pak, terima kasih ya.!”

Riha dengan cepat membawa masuk kotak tersebut. Ternyata kiriman dari Bertha teman kuliahnya dulu. Bertha juga mengirimkan fotonya dengan memakai jilbab tertutup rapi. Di dalamnya memang ada sebuah surat sederhana tertulis buat Riha.

Hai Girls, katanya kamu udah nikah ya…! gimana. Enak nggak. Kalo kamu sudah nikah dengan anak band, gue juga mau menyusul nih…sudah gue bilang dia itu anak baik-baik. Kayaknya gue juga mesti cari anak Band yang dari pesantren nih

Riha hanya tertawa sendiri seperti melihat Bertha di depan matanya saja dan berkata Hai girls….

Entry filed under: cerpen. Tags: .

Bersyukur Puisi-45

1 Komentar Add your own

  • 1. reload  |  April 5, 2008 pukul 4:13 pm

    sugoooiiii!!

    keren guh.. tapi bacanya bikin ngantuk..? khas cerpen2 Islami.. you suka baca annida ya..?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


April 2008
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

%d blogger menyukai ini: