Ulama dan Politik

Maret 27, 2008 at 2:20 am Tinggalkan komentar

Ulama dan Persoalan Politik

Oleh :

Dede Ariyanto*

Diakui atau tidak dua kubu antara ulama dan penguasa keduanya adalah kubu yang berbeda. Karena bagaimanapun juga ulama dan penguasa dalam hal ini pemerintah maupun politik saling bersinggungan. Menurut Drs. Hamdan Daulay, Msi seorang pengamat sekaligus pakar politik (Dosen UIN Yogyakarta ) mengatakan bahwa, pengertian politik itu sendiri adalah seni untuk mendapatkan dan mengelola kekuasaan dalam hal ini bisa saja para pemeran kancah politik dapat menghalalkan segala cara, tentu saja jika iman para pemain politik itu sendiri lemah.

Kaitanya dengan ulama yang berperan di dalam politik saya setuju sekali dengan pendapatnya Hasan Mansur di dalam bukunya yang berjudul Mengemban Tugas Dakwah mengatakan bahwa Ulama (tokoh agama) sesungguhnya memiliki peran penting di tengah masyarakat, karena keluhuran akhlaknya. Ulama juga dianggap sebagai benteng moralitas karena kesederhanaan dan kejujuran yang mereka lakukan. Keberpihakan ulama kepada masyarakat bawah , membuat ulama selama ini terpelihara dengan baik, karena kejujuran, keikhlasan, dan kenetralan ulama di masyarakat. Sesungguhnya ini yang menjadi masalah jika ulama terjun kedalam dunia politik apabila nilai-nilai yang tersebut di atas terkikis atau hilang sama sekali . Maka ditakutkan umat yang dibimbing, dibina, (mad’u) tidak lagi mengindahkan seruan ulama tersebut. Sesungguhnya inilah yang terjadi di dalam masyarakat Indonesia itu sendiri, yang sedikit penulis tidak pahami apa karena statment bahwa apabila ulama/ustadz masuk di dalam kancah politik maka ulama/ustadz itu sendiri dianggap tidak konsisten lagi di dalam mengajarkan nilai-nilai keislaman pada masyarakat. Misalnya Aa Gym, Zaennudin MZ yang tercatat dalam data statistik mengalami penyusutan jama’ah pengajiannya secara drastis, bahkan ada sebagian jamaahnya membakar produk Darul Tauhid.

Disisi lain Hidayat Nurwahid berpendapat bahwa selamanya tidak benar jika ulama/ustadz dikatakan tidak pantas di dalam dunia politik, argumen beliau adalah bahwa pada zaman ke-emasan Islam pun para ulama/ ustadz banyak yang terjun di dunia politik, tetapi hasilnya apa? Sungguh menakjubkan peradaban ke-emasan termasuk Islam berkembang hingga sampai dirasakan seantero jagat ini, tentunya ulama yang wara (jujur). Menurut beliau masyarakat Indonesia masih kurang di dalam memahami dunia perpolitikan seakan-akan politik itu kotor, nabi Muhammad sendiri pun berpolitik.

Kalau kemudian, dakwah dilarang berkomunikasi dengan politik dan kekuasaaan, hendaknya yang ngomong itu, baca Al-Qur’an lebih cerdas lagi. Sebab dia akan ketemu para nabi adalah imamnya para dai, dan inilah yang disebut sebagai nabi yang abdan (nabi yang hamba) dan dia tiak berkuasa sama sekali. Tapi ada nabi yang disebut malikan (nabi yang berkuasa) seperti Nabi Yusuf yang berkuasa menjadi menteri, ada Nabi Daud yang kekuasannya luar biasa dan menjadikan teknologi besi untuk mengokohkan kekuasaannya. Ada Nabi Sulaiman yang mempunyai kuasa luar biasa dan berdoa “Ya Allah berikan kekuasaan kepadaku yang luar biasa, yang tidak akan bisa disaingi penguasa berikutnya.”

Penulis sendiri setuju dengan pendapat yang pertama, memang bagaimana pun juga seorang ulama mempunyai jama’ah, lembaga, pesantren yang seharusnya ulama/ ustadz tersebut mengelolanya secara baik dan benar . Sah-sah saja jika ulama/ustadz terjun di dalam politik apabila tidak ada tujuan lain dalam artian lillahita’ala dengan tetap exsis menjalankan tugas, peran, dan kewajibannya sebagai ulama/ ustadz. Tetapi sampai saat inipun faktanya hampir tidak ditemukan, walaupun hanya sedikit. Inilah yang kiranya perlu diperhatikan para ulama/ustadz. Memang jika kita kembalikan terhadap persoalan pemegang perpolitikan yang ada di Indonesia ini maka jawabannya adalah penguasa yang sangat berperan, di harapkan nantinya para ulama tidak tinggal diam terhadap para penguasa yang cenderung memanipulasi perpolitikan yang ada di Indonesia ini, salah satu caranya adalah dengan mengkritik para pengusa yang sudah keluar dari jalur perpolitikan yang benar.

Ironinya adalah sepertinya mereka para ulama ini di anggap oleh para penguasa dengan penghalang para pengusa tersebut, seolah-olah mereka bagaikan batu kerikil yang menghalangi langkah mereka yang patut disingkirkan dan mungkin di musnahkan, contoh kasusnya ini terjadi pada penangkapan ustadz Ja’far Umar, Abu Bakar Ba’asir dan seterusnya. Rasanya masih segar diingatan kita tatkala ustad Abu Bakar Ba’asir ditangkap sebagai dalang teroris sampai-sampai beliau kencing di botol (dalam perjalanan ke tahanan dengan menggunakan mobil) sungguh ini semata-mata permainan penguasa belaka. Inilah cerminan morat-maritnya dunia politik yang ada di indonesia, semoga dengan tidak masuknya para ulama/ustadz di politik, saling mengoreksi keduannya, mencarai penyelesaian yang ada di Indonesia ini, diharapkan nantinya Indonesia ini mempunyai perpolitikan yang sehat. Semoga!.

 

About these ads

Entry filed under: Opini. Tags: .

Kenangan bersama Ibu ‘Kost’ Temanku life of the flow

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Maret 2008
S S R K J S M
    Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: