Aku Bukan Pancasila
Aku Bukan Pancasila
Oleh: Teguh Estro

Berkali-kali diri ini menanyakan, aku dimana…? Semua orang bermulut di sekelilingku hanya diam. Ya, aku memang panik, menjerit-jerit. Tapi sungguh, bukankah aku layak tahu apa yang terjadi, mengapa…? Mengapa kepalaku diperban, lantas kok, bisa berbaring dirumah sakit…? Lagi-lagi kebisuan yang mereka berikan. Aku tahu, mereka pasti menyembunyikan sesuatu.
“ Kamu dihajar orang Man…!” Ucap Atmo.
kagetnya aku mendengar ucapan pria di samping ranjang ini pelan padaku. hingga memoriku mencoba keras mengingat sesuatu, kejadian itu. Kejadian dihajar orang.
***
“Man,… man,…. Herman, Ayo!” Teriak Atmo dari luar rumah. Atmo memang resek. Pagi-pagi buta mulutnya sudah bersuara di depan rumahku. Apaan sih, paling-paling pinjam motor. Walau begitu, temanku satu ini begitu akrab. Saking nempelnya, kami dulu sempat dijuluki bujang kembar. Hanya saja sejak aku telah bekerja, kita berdua jarang bersua. Apalagi kini ia sudah menjadi aktivis ormas ini dan itu. Tapi anehnya pagi-pagi begini ia sudah terlihat semangat sekali, berkoar-koar memanggilku.
“Ayo Herman, dijenguk siapa diluar…” suruh ibuku yang sedari tadi hanya di dapur, tampaknya wanita yang telah melahirkanku ini juga terusik.
“ Iya sebentar…!” Teriakku tak kalah kuatnya dengan suara di luar. Baru saja kubuka (lagi…)
Puisi-45
Dia datang lagi malam-malam mengetuk pintu hati dengan cara diam-diam bahkan aku sendiri juga tidak tahu kapan dia datang, tahu-tahu dia sudah ada di kamar dan lantas membunuhku, sempat juga aku di bikin panik, apa maunya?
aku mohon jangan datang malam ini karena aku sedang dan masih bercinta dengan kesunyian yang bisu membatu layaknya orang bisu yang lagi ngopi di warung si gombel itu, aku bukanlah kekasihmu yang kau cari sambil merangkak di rumah tetangga sebelah, aku juga bukan seorang yang patut kau kasihi karena aku bukan lah seorang pengasih, kadang aku pernah di suruh Tuhan untuk menjaga kuburan yang gulita sekali aku rasa,aku coba menurutinya dengan alasan bahwa aku adalah ciptaan-NYA, yah sebagai balas budi.
basah tubuhmu membuat aku mengeluarkan seekor makhluk yang bernama birahi yang mau menyelinap keluar dari tubuhku, lantas inikah semua pembalasanya.
aku mulai muak dengan apa yang terjadi pada dunia, ego yang di suarakan, ego yang di turuti, nafsu dan tahta sementara yang di kejar.
aku bukanlah firaun atau aku juga bukan namrudz, aku juga bukan manusia mungkin bisa di bilang setengah manusia karena separuh dari tubuhku terdapat kebiasaan binatang yang mengendap-ngendap keluar.
MARILAH NGOPI DI BAWAH RANJANG PENUH SPERMA ITU..
AGAR KITA TAHU BETAPA MUNAFIKNYA KITA
KEMATIAN YANG TERTUNDA
aku mendendam pada hari yang yang membuat kulitku lusuh
akalku mati
jiwaku hidup sebelah
janji yang terucap hanyalah sampah yang bertutur pada sepi
angin lalu masih menampakkan wajah jeleknya di cermin
aku bosan dengan semua kesendirian ini
aku mulai bosan dengan semua permainan Tuhan
tapi aku masih tetap ingin bernyanyi sebagai penghibur di saat hati mulai retak
berdoalah kepada waktu yang menjemukan
berteriaklah di padang sahara yang mulai menghitam
oooh kekasih,.,.,.aku bukanlah sebuah cinta yang bermain di pojok-pojok rumah
seperti kebiasaan mu pada perempuan pelacur itu
bukankah kemarin sudah aku bilang tentang sebuah impian yang terbuang
alunan janji terkutukmu membuatku sedikit merinding
sumpah yang telah terucap tidak ada di ruang hampa yang mengangkasa
keputusanku tetap sama seperti kemarin
pergilah jika itu memang tujuan untuk langkahkan kaki ke depan
aku bukanlah pelukis yang setia melukis pengemis yang kelaparan
sudahlah, akhiri semua ini,
biarkan aku menghibur diri saat sepi menghampiri
tapi aku masih bosan sendiri
aku ingin di samping mu di malam hitam ini
bunga kematiannya sangat indah sekali aku lihat
tentang semuanya
dan tentang hidup yang mulai menjengkelkan ini
aku ucapkan selamat malam pada malaikat=malaikat yang telah menaburkan bunga harumnya buat mimpiku,.,.,.,.,.
dan sekali lagi
AKU MEMANG BUKAN PANUTANMU
Muhammad Fahmi
Hai Girls
Hai Girls…
Oleh : Teguh ‘Estro’
Tersenyum sendiri mengenang masa lalu. Riha yang kini asyik menyapu lantai dan membersihkan debu-debu bingkai foto di dinding. Foto seorang bayi yang masih imut-imut. Terlebih Foto saat ia baru masuk kuliah hingga tak sadar membuat Riha tertawa sendiri. Teringat teman-teman lucunya, saling tertawa tanpa beban.
***
Sungguh terkejut Riha dibuat kaget oleh temannya. Padahal sedari siang kerjaannya hanya melamun di taman fakultas
“Hai girls, kok melamun aja. lagi dapet ya..?”
Bersyukur
Oleh:
Dede Ariyanto
Sebut saja namanya adalah Parjo. Parjo adalah seorang pemuda yang tunanetra, Parjo kuliah di sebuah salah satu Universitas tinggi di Yogyakarta. Ia memiliki semangat belajar yang sangat tinggi, mengeluh dan putus asa tidak ada di dalam kamus kehidupannya .
******
life of the flow
By: Dede Ariyanto
It was confused that I determined the direction
Heave the life of the flow
Terlenakan appearance puberitas
Arranged by me this poem for you (lagi…)
Ulama dan Politik
Ulama dan Persoalan Politik
Oleh :
Dede Ariyanto*
Diakui atau tidak dua kubu antara ulama dan penguasa keduanya adalah kubu yang berbeda. Karena bagaimanapun juga ulama dan penguasa dalam hal ini pemerintah maupun politik saling bersinggungan. Menurut Drs. Hamdan Daulay, Msi seorang pengamat sekaligus pakar politik (Dosen UIN Yogyakarta ) mengatakan bahwa, pengertian politik itu sendiri adalah seni untuk mendapatkan dan mengelola kekuasaan dalam hal ini bisa saja para pemeran kancah politik dapat menghalalkan segala cara, tentu saja jika iman para pemain politik itu sendiri lemah.
Kenangan bersama Ibu ‘Kost’ Temanku
Oleh : Teguh ‘Estro’
Saya baru saja pulang dari rumah paman. Rencananya sih, mau ke rumah kos-kosan Romi. Semoga dia mau memperbaiki komputerku. Beberapa hari lalu komputerku hang[1], padahal sedang menggarap skripsi lho. Dengan terburu-buru langkah kaki ini semakin cepat menuju kos-kosan anak semester 10 itu. Sampai akhirnya tiba di depan gerbang kos-kosan Romi. Namun sayang ternyata pagarnya terkunci dengan gembok yang besar. Saya tidak kehabisan akal, sesekali gerbang kugedor dengan gembok besi tersebut. Hingga beberapa kali suara keras itu membuat seorang wanita paruh baya keluar, tampaknya dia ibu kos Romi.
“ Ada apa mas…? (lagi…)
Siapa, Di mana, Ke mana Mahasiswa Sekarang?
Oleh : Didik Haryadi Santoso MBA
Mahasiswa memang selalu benar,
bukan begitu bukan? Wiwit?
Tak ada yang tak kenal dengan istilah mahasiswa, kata-kata mahasiswa sangat akrab ditelinga kita semua. Disadari atau tidak, mahasiswa zaman sekarang sedikit aneh dengan para pendahulunya. Ada apa dengan mahasiswa sekarang? siapa, dimana dan akan kemana mahasiswa sekarang? hanya waktu yang dapat membuktikan itu semua.
Yang Progresif